The Application of Huma Betang's Philosophy in Caring the Earth and Maintaining the Saddha of Buddhists in Bumi Tambun Bungai, Central Kalimantan
Main Article Content
Abstract
This article examines the development of Buddhism in Central Kalimantan by implementing the Huma Betang philosophy as a symbol of the traditional house typical of the Dayak people in taking care the earth and maintaining Saddha/belief. Using historical qualitative methods, a research approach that examines events, figures, descriptively, analytically, and using data collection methods from sources such as documents, and archives, to examine how the existence of Buddhists in implementing the philosophy of local cultural values of the Dayak Huma Betang tribe in the movement to take care of the earth to maintain Saddha in Tambun Bungai, Central Kalimantan. Understanding of the integration of Buddhism and environmental action with the midst of a global environmental crisis, collaborating religious communities and Dayak communities to become a force for positive change instilling moral and ethical values to motivate real and sustainable actions to help government programs Analysis of various sources of scripture such as Dhammapada, Vanaropa Sutta, Implementation of Huma Betang local wisdom through the application of shared responsibility, moderation and tolerance, living in harmony and peace in the movement of caring the earth and environmental awareness (Eco Dhamma), the concept of interdependence (Paticca Samuppada) and universal compassion (Metta) is in harmony and relevant to the Buddha Dhamma.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
- ผลงานที่ส่งตีพิมพ์จะต้องไม่เคยเผยแพร่ในสิ่งตีพิมพ์อื่นใดมาก่อนและต้องไม่อยู่ในระหว่างการพิจารณาของวารสารอื่น การละเมิดลิขสิทธิ์ถือเป็นความรับผิดชอบของผู้ส่งบทความโดยตรง
- ต้นฉบับที่ส่งตีพิมพ์ต้องเป็นภาษาไทยหรือภาษาอังกฤษเท่านั้น
- ต้นฉบับต้องผ่านการกลั่นกรองโดยผู้ทรงคุณวุฒิและได้รับความเห็นชอบจากกองบรรณาธิการ
- ในกรณีที่เป็นบทความแปล ต้องได้รับอนุญาตจากเจ้าของลิขสิทธิ์ โดยการขออนุญาตให้เป็นไปตามหลักจริยธรรมสากล
- ข้อความ เนื้อหา รูปภาพ และตาราง ที่ตีพิมพ์ในวารสาร เป็นความรับผิดชอบของผู้เขียนบทความแต่เพียงผู้เดียว มิใช่ความคิดเห็นและความรับผิดชอบของกองบรรณาธิการวารสาร กองจัดการ และมหาวิทยาลัยมหามกุฏราชวิทยาลัย วิทยาเขตอีสาน
6. ผลงานที่ได้รับการตีพิมพ์ถือเป็นลิขสิทธิ์ของวารสาร
References
Ajisuksmo, C. R., Rosario, T. M., & Soge, Y. S. (2023, June). Peran Orang Muda Katolik
dalam Memelihara Bumi sebagai Rumah Umat Manusia. In Prosiding Seminar
Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Vol. 1, No. 1, pp. 214-
.
Agustina (2024, 3 Desember) Filosofi Huma Betang dalam Masyarakat Dayak, Simbol
Keharmonisan dan Gotong- Royong
Aprilia, S. (2025). Teologi Ekologi Berbasis Nilai Budaya Huma Betang dalam Penghayatan
Iman dan Cinta Lingkungan Bagi Kaum Muda Katolik. Sepakat: Jurnal Pastoral
Kateketik, 11(2), 105-115.
Bayuseto, A. (2023). Pandangan agama Buddha tentang ekologi dan implementasinya di
ANWAR-NIM, Z. U. R. Q. O. N. I. (2010). EKOLOGI DALAM PERSPEKTIF
AGAMA BUDDHA (Doctoral dissertation, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Billy Setiadi., 2018 sudut pandang perlindungan lingkungan menurut agama Buddha
https://buddhazine.com/sudut-pandang-perlindungan-lingkungan-menurut-agamabuddha/
Cris Apandie., M.Pd (2001,5 Oktober) HUMA BETANG FALSAFAH SUKU DAYAK
KALIMANTAN TENGAH diakses pada 6 januari 2026 dari
Dadang Sudardja Selasa, 14 Oktober 2025 Peran Tokoh Agama dalam Meningkatkan
Kapasitas Masyarakat Menghadapi Bencana dan Krisis Iklim
Deddy (2025, 17 Agustus) Nilai Filosofi Huma Betang jadi Pilar Persatuan kalteng
https://humabetang.com/berita/nilai-filosofi-huma-betang-jadi-pilar-persatuankalteng
Fatchurahman, M., Fahmi, F., & Solikin, A. (2021). Huma Betang: Internalisasi Nilai-Nilai
Kearifan Lokal Kalimantan Tengah.
Felicia, I. (2025). PENDEKATAN EKOLOGI DALAM PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT BUDDHIS: STUDI KONSERVASI DAN KESADARAN
LINGKUNGAN. Integrative Perspectives of Social and Science Journal, 2(07
Desember), 9288-9293.
Hidayatulloh, M. T. (2015). Aktivitas Dan Relasi Sosial Majelis Agama Buddha Tantrayana
Zhenfo Zong Kasogatan Di Kalimantan Barat. Dialog, 38(2), 157-166.
Iman, G., Imami, A., Jayakusuma, S., Fithra, R., & Jayadi, S. (2025). Ekoteologi dalam
Bingkai Pluralisme: Landasan Teologis Kolaborasi Lintas Agama untuk
Menghadapi Krisis Iklim. Kamali: Jurnal Ilmu Agama, 1(2), 111-128.
Komala, N. S. (2025). Praktik Vegetarian sebagai Etika Lingkungan yang Dihayati dalam
Keluarga Buddhayana Indonesia. Kajian & Reviu Jinarakkhita: Jurnal Gerakan
Semangat Buddhayana (JGSB), 3(2), 124-140.
Kurniyawan, N. A., & Pratama, A. Y. (2025). Merawat rumah bersama: Integrasi spiritualitas
Kristiani dan teologi ekologis Laudato Si’sebagai paradigma baru bagi kaum
awam. Sepakat: Jurnal Pastoral Kateketik, 11(2), 22-38.
Madina, S. (2021). Teologi ekologis: Peran agama dalam menginspirasi gerakan
lingkungan. Farabi, 18(2), 193-206.
Nenny Susanty Kamis, 27 Juli 2023 Huma Betang, diakses pada 2 Januari 2026
Ningrum, S. H., Noviansyah, R., & Dewi, A. K. (2025). Ekoteologi dan sustainable
environment: Studi peran rumah ibadah terhadap konservasi hutan tropis
Indonesia. TERRA: Journal of Forest Management, 1(1).
Oktaviani, D., & Kurnia, H. (2023). Suku Dayak: Mengenal Tradisi Adat dan Kehidupan
Masyarakatnya. Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia, 1(1), 10-19.
Purwanto, E. (2025). Merawat Bumi sebagai Tanggung Jawab Iman. Te Deum (Jurnal
Teologi dan Pengembangan Pelayanan), 15(1), 27-36.
Pelu, I. E. A., & Tarantang, J. (2018). Interkoneksi nilai-nilai huma betang Kalimantan
Tengah dengan Pancasila. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, 119-126
Reno, R. (2024). Spiritualitas Ekologis dalam Agama-Agama di Indonesia dan Kaitannya
Dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta Sebagai Salah Satu “Universitas
Laudato SI”. Syntax Idea, 6(4), 1822-1835.
Rikah Mustika, 24 Desember 2022 09:02, diakses pada 6 januari 2026
Riyanto, F. E. A., & Adon, M. J. (2024). Keseimbangan Alam dan Manusia: Menyibak NilaiNilai Ekologis Budaya Suku Dayak Krio Berdasarkan Perspektif Ekologi Thomas
Berry. Jurnal Batavia, 1(3), 145-158.
Rujukan: Kementrian Agama. (2021). Hijau Alamku, Damai Jiwaku. Kemenag.go.id.
Website: https://kemenag.go.id/read/hijau-alamku-damai-jiwaku-n3b9p
Rujukan: Kementrian Agama. (2021) Dari Pohon Bodhi, Belajar Menjaga Lingkungan
dengan Bijaksana https://kemenag.go.id/buddha/dari-pohon-bodhi-belajarmenjaga-lingkungan-dengan-bijaksana-V5s0O
Sugiatrto, (2024) Eko Dharma Kesadaran dan Kebijaksanaan Ekoteologi Buddha
Suharno, S., & Sartini, S. (2022). Tribuana Manggala Bakti: Menjaga Lingkungan Alam
Menoreh dalam Perspektif Fritjof Capra. Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi,
Dan Tradisi), 8(2), 275-286.
Sutarwan, I. W. (2023). Huma Betang Sebagai Wadah Merajut Kebhinekaan di Kalimantan
Tengah. Tampung Penyang.
Suwarno, S. (2017). Budaya huma betang masyarakat dayak kalimantan tengah dalam
globalisasi: telaah konstruksi sosial. LINGUA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan
Pengajarannya, 14(1), 89-102.
Vihara Widhi Sakti Kota Sukabumi (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati
Bandung).
Wilantari, N. N. A., & Safitri, M. (2024). Nilai Kearifan Lokal Batang Haring dalam
Pariwisata dan Budaya Kalimantan Tengah. Tampung Penyang, 22(2), 125-142.
Wisman, Y., & Santoso, J. (2024). Pendidikan lingkungan hidup untuk meningkatkan
ecoliteracy siswa. Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang, 15(1), 29-40.